[Menjemput Cahaya Ramadhan]
PALOPO – Saat ratusan jamaah mulai memadati Masjid Agung, Minggu (15/2/2026).
Ada nuansa yang berbeda kali ini; bukan sekadar ibadah rutin, melainkan sebuah ikhtiar spiritual untuk menyambut tamu agung yang tinggal menghitung hari: Ramadhan 1447 Hijriah.
Melalui kolaborasi hangat antara Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Palopo dan POKJA 1 TP PKK, sebuah perhelatan bertajuk “Tabligh Akbar: Palopo Kota Religi, Berzikir, dan Bersholawat” digelar.
Masjid yang menjadi ikon kota tersebut seolah menjadi saksi bisu betapa kuatnya kerinduan umat akan datangnya bulan penyucian.
Sya’ban: Gerbang Menuju Kemuliaan
Mengusung tema “Sya’ban Bulan Penyucian Hati, Gerbang Menuju Kemuliaan Ramadhan”, acara ini bukan sekadar seremoni.
Di balik balutan seragam majelis taklim yang rapi, terpancar semangat untuk membenahi diri.
Suasana kian khidmat saat lantunan ayat suci Al-Qur’an mulai dibacakan, disusul dengan gema zikir dan shalawat yang menyeruak ke setiap sudut ruangan.
Tak sedikit jamaah yang tertunduk khusyuk, melarutkan doa-doa dalam setiap tarikan napas, memohon agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan dalam keadaan terbaik.
“Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Mari kita sambut dengan hati yang bersih, saling memaafkan, serta memperkuat persaudaraan,” ujar Hj. A. Suriani Andi Kaso, SE, M.Si, Ketua BKMT Kota Palopo, dengan nada bicara yang teduh namun penuh penekanan.
Pesan Moral dari Mimbar
Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Ibu Masdiah Tawakkal (Ketua Dewan Pembina BKMT) memberikan suntikan moral bagi para pengurus hingga tingkat kelurahan. Baginya, kegiatan ini adalah fondasi untuk membangun karakter masyarakat Palopo yang religius di tengah arus zaman.
Puncak siraman rohani disampaikan oleh Ustadz Taslim, S.Pd. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah “Madrasah Ruhani”.
“Siapa yang menjaganya dengan baik, insya Allah akan keluar sebagai pribadi yang lebih bertakwa,” tuturnya di hadapan jamaah yang menyimak dengan saksama.
Peran Ibu-Ibu: Dari Sedekah hingga Kultum
Di penghujung acara, pesan praktis yang menyentuh ranah sosial disampaikan. Hj. A. Suriani mendorong para ibu-ibu majelis taklim untuk menjadi motor penggerak kebaikan selama Ramadhan nanti.
Dari hal kecil seperti menyediakan air minum dan takjil di masjid, hingga aktif mengisi kultum subuh.
”Peran kecil yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi amal besar di sisi Allah SWT,” tambahnya, mengingatkan bahwa kesalehan individu harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial.
Kegiatan yang ditutup dengan doa bersama dan sesi foto penuh keakraban ini meninggalkan kesan mendalam.
Warga Palopo pulang dengan wajah berseri, membawa bekal semangat untuk menjadikan Ramadhan 1447 H sebagai momentum transformasi diri dan kota tercinta menuju keberkahan yang lebih luas.(*)











