BAEBUNTA – Semangat pelestarian adat dan budaya Luwu kembali bergema di Bumi Lamaranginang. Pembukaan Pembelajaran Peserta Sekolah Budaya Luwu (SBL) I La Galigo Angkatan VII Cabang Kabupaten Luwu Utara sukses digelar di Baruga La Tamaccelling, Kemakolean Baebunta.
Acara yang berlangsung penuh khidmat ini, baru baru ingat , diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur, prosesi pembukaan juga diwarnai dengan doa bersama dan pengiriman Suratul Fatihah untuk almarhumah YM. Andi Masita Kampasu (Opu MatinroE ri Baebunta).
Laporan dan Sambutan Tokoh
Dalam laporannya, Kepala Sekolah SBL I La Galigo, Bapak Drs. H. Dullah. M., M.Pd (Dullah Bingkasa), menyampaikan bahwa angkatan ketujuh ini diikuti oleh 72 peserta. Para peserta berasal dari berbagai latar belakang profesi dan perwakilan masyarakat yang berdomisili di Kabupaten Luwu Utara, menunjukkan tingginya antusiasme warga dalam mendalami akar budaya mereka.
Beberapa poin penting juga disampaikan oleh para tokoh yang hadir:
Ketua Yayasan Wanua Tana Luwu: Diwakili oleh Sekretaris Yayasan, Ibu Hisra, S.Si (Hisrah Sahim), yang menekankan pentingnya sinergi dalam menjaga warisan leluhur.
Makole Baebunta: YM. Andi Syarifah Muhaeminah, S.E., M.Si (Opu Daengna Putri), menyambut hangat kehadiran para peserta di Baruga La Tamaccelling sebagai pusat pembelajaran budaya.
Datu Luwu XL: Pesan dari YM. H. Andi Maradang Mackulau, S.H (Opu To Bau) disampaikan oleh Opu Maddika Bua, YM. Andi Syaifuddin Kaddiraja, S.Sos (Opu To Sattiaraja).
Pemerintah Kabupaten Luwu Utara: Acara dibuka secara resmi oleh Bupati Luwu Utara yang diwakili oleh Asisten I, Bapak H.
Baharuddin. Dalam sambutannya, pemerintah daerah mengapresiasi kehadiran sekolah budaya ini sebagai wadah pembentukan karakter masyarakat yang berbasis kearifan lokal.
Mencetak Agen Pelestari Budaya
Kehadiran SBL I La Galigo Angkatan VII diharapkan tidak sekadar menjadi tempat belajar sejarah, tetapi juga menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya “Agent-Agent Pelestari Budaya Luwu” yang mampu berbenah dan beradaptasi dengan zaman tanpa meninggalkan jati diri.
Kegiatan ini ditutup dengan semangat kebersamaan yang terangkum dalam falsafah:
”Pattuppui Ri Ade’E, Pasanre’i Ri Syara’E”
(Bertumpu pada Adat, Bersandar pada Syariat)
Salama’ki ta pada salama’.(***)











