Oleh: Lukman Hamarong
LUWU UTARA – Selama puluhan tahun, nama Seko di Kabupaten Luwu Utara kerap bersanding dengan narasi perjuangan yang getir. Julukan sebagai wilayah dengan “tarif ojek termahal di dunia” bukanlah prestasi, melainkan potret nyata betapa mahalnya harga sebuah akses bagi warga di jantung Sulawesi Selatan ini.
Namun, kabut isolasi itu kini mulai tersingkap. Harapan yang dulunya hanya sekadar imajinasi dan angan-angan kosong, kini perlahan mewujud menjadi hamparan aspal dan pengerasan jalan yang nyata. Proyek pengerjaan jalan menuju Seko resmi dimulai, menandai babak baru bagi ekonomi “Bumi La Maranginang”.
Memutus Rantai Isolasi dan Disparitas Harga
Akses menuju Seko selama ini dikenal sebagai salah satu jalur terekstrem di Indonesia. Medan berlumpur yang menyerupai kubangan dan waktu tempuh berhari-hari telah menciptakan disparitas harga yang menyolok. Kesenjangan harga kebutuhan pokok antara wilayah daratan dan pegunungan menjadi beban menahun yang menghimpit ekonomi warga.
Akses menuju Seko selama ini dikenal sebagai salah satu jalur terekstrem di Indonesia. Medan berlumpur yang menyerupai kubangan dan waktu tempuh berhari-hari telah menciptakan disparitas harga yang menyolok. Kesenjangan harga kebutuhan pokok antara wilayah daratan dan pegunungan menjadi beban menahun yang menghimpit ekonomi warga.
Satu-satunya tumpuan adalah motor modifikasi—si kuda besi tangguh yang mampu menembus lumpur sedalam paha orang dewasa. Namun, ketangguhan itu harus ditebus dengan ongkos logistik yang selangit. Pembangunan jalan ini hadir sebagai solusi tunggal untuk memutus rantai mahal tersebut dan memperkuat konektivitas antarwilayah.
Urat Nadi Ekonomi Baru
Sabtu (4/4/2026), suasana di Desa Palandoan, Seko, tampak berbeda. Bupati Luwu Utara, Andi Rahim, turun langsung memantau progres pengerjaan infrastruktur sepanjang 4,8 km tersebut. Di mata sang Bupati, setiap jengkal aspal yang terbentang adalah masa depan.
Sabtu (4/4/2026), suasana di Desa Palandoan, Seko, tampak berbeda. Bupati Luwu Utara, Andi Rahim, turun langsung memantau progres pengerjaan infrastruktur sepanjang 4,8 km tersebut. Di mata sang Bupati, setiap jengkal aspal yang terbentang adalah masa depan.
”Jalan ini bukan sekadar aspal, tetapi juga sebagai urat nadi ekonomi. Jika akses terbuka, potensi daerah bisa berkembang maksimal dan kemiskinan dapat kita tekan,” ujar Andi Rahim dengan nada optimis.
Ia menekankan bahwa pengerjaan yang didanai melalui sharing anggaran APBN dan APBD Provinsi ini harus memenuhi standar teknis yang ketat. Kualitas adalah harga mati agar ketahanan jalan bisa dirasakan untuk jangka waktu yang panjang.
Ia menekankan bahwa pengerjaan yang didanai melalui sharing anggaran APBN dan APBD Provinsi ini harus memenuhi standar teknis yang ketat. Kualitas adalah harga mati agar ketahanan jalan bisa dirasakan untuk jangka waktu yang panjang.
Efek Domino bagi Petani dan Wisata
Seko sejatinya adalah “permata” yang tersembunyi. Wilayah ini menyimpan potensi luar biasa pada komoditas kopi, padi organik, dan kakao. Selama ini, keuntungan petani habis dimakan ongkos angkut. Dengan jalan yang mulus, biaya logistik diproyeksikan akan terjun bebas, memberikan ruang bagi petani untuk meraih profit yang lebih layak.
Seko sejatinya adalah “permata” yang tersembunyi. Wilayah ini menyimpan potensi luar biasa pada komoditas kopi, padi organik, dan kakao. Selama ini, keuntungan petani habis dimakan ongkos angkut. Dengan jalan yang mulus, biaya logistik diproyeksikan akan terjun bebas, memberikan ruang bagi petani untuk meraih profit yang lebih layak.
Tak hanya pertanian, panorama alam Seko yang autentik dan memesona juga menanti sentuhan investasi pariwisata. Akses yang mudah dipastikan akan menarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mencicipi langsung eksotisme pegunungan Luwu Utara.
Sinergi dan Kolaborasi Pusat-Daerah
Pembangunan ini merupakan buah dari kolaborasi lintas level pemerintahan. Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menegaskan komitmennya untuk mengawal proyek ini secara bertahap.
Pembangunan ini merupakan buah dari kolaborasi lintas level pemerintahan. Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menegaskan komitmennya untuk mengawal proyek ini secara bertahap.
”Insya Allah, dalam waktu dekat, melalui APBD Provinsi, kita juga akan mulai. Kolaborasi penyelesaian jalan Seko secara bertahap terus dilakukan,” ungkap Andi Sudirman secara terpisah.
Meski dilakukan di tengah upaya efisiensi anggaran, pemerintah tetap memprioritaskan Seko sebagai agenda strategis. Dukungan masyarakat pun diharapkan agar pengerjaan di lapangan dapat berjalan lancar tanpa kendala berarti.
Kini, warga Seko mulai menatap langit yang sama dengan harapan yang berbeda. Tak lama lagi, deru mesin motor ojek tidak lagi membawa kabar tentang mahalnya harga barang, melainkan kabar tentang kemudahan, kemakmuran, dan mimpi yang akhirnya sampai ke depan pintu rumah mereka. (***)
Editor : aBa











