Home / Uncategorized

Senin, 27 Oktober 2025 - 15:58 WIB

Melampaui Retorika: Ketika Kearifan Jadi Parameter Utama Kepemimpinan di Palopo

PALOPO – Walikota Palopo, Hj. Naili Trisal, belakangan ini menjadi sorotan hangat. Bukan hanya terkait kebijakan, namun kritik publik banyak tertuju pada gaya retorika dan narasi yang ia gunakan saat menyampaikan sambutan atau berinteraksi dengan masyarakat.

Nyinyiran di ruang publik, terutama media sosial, seringkali mempertanyakan bagaimana seorang pemimpin daerah membangun komunikasi publiknya.

​Di tengah riuh rendahnya kritik ini, suara berbeda datang dari tokoh lokal, Jalal Abu Shirin, seorang aktivis senior sekaligus pengamat sosial kemasyarakatan di Palopo. Jalal via laman medsosnya, menawarkan perspektif yang menohok, berupaya menggeser fokus perdebatan dari estetika bahasa ke esensi kepemimpinan.

​”Bukan Rektor, Tapi Pemimpin yang Bijak”

​Dalam tanggapannya, Jalal Abu Shirin secara tegas menyatakan bahwa tolok ukur seorang kepala daerah tidak seharusnya disamakan dengan standar akademisi.

Baca juga  Selamat Idul Fitri 1445 h, dari Kepala Dinas Kominfo Luwu Utara. Drs. Nursalim Ramli. M.Si.

​”Menjadi kepala daerah tak mesti seperti menjadi rektor. Ketika berbicara, ia tidak wajib menggunakan kalimat-kalimat akademik yang berbelit-belit,” ujar Jalal yang juga lawyer di Palopo.

​Menurutnya, standar performa seorang walikota tidak terletak pada seberapa indah atau formal susunan kalimatnya. Yang jauh lebih krusial, lanjutnya, adalah kearifan yang ditunjukkan dalam mengambil keputusan dan memimpin daerah.

​Suara Rakyat vs. Suara Penyinyir

​Pesan utama yang ditekankan oleh Jalal Abu Shirin adalah keharusan seorang pemimpin untuk tetap berada di jalurnya: melayani dan mendengarkan.

​”Yang dibutuhkan darinya adalah kearifan dalam memimpin,” tegas Shirin. “Untuk itu, kepala daerah harus mendengar suara rakyat. Bukan suara Timses (Tim Sukses), apalagi hanya menanggapi suara para penyinyir.”

Baca juga  Pemda Lutra Resmi Tetapkan Besaran Zakat Fitrah, Diimbau Dibayar Lebih Awal

​Pernyataan ini bisa dibaca sebagai tamparan halus bagi para kritikus yang hanya berfokus pada sisi superfisial komunikasi, sekaligus menjadi pengingat bagi walikota untuk memprioritaskan substansi kerja dan aspirasi masyarakat di atas kebisingan politik dan komentar negatif.

​Pandangan Jalal Abu Shirin ini mengajak publik Palopo untuk kembali melihat inti dari tugas seorang Walikota: bukan sekadar piawai berpidato, melainkan memiliki hati yang arif, kebijakan yang bijak, dan telinga yang selalu terbuka lebar bagi suara rakyat yang sesungguhnya.(***)

 

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Akses Menuju Seko: Harapan Baru di Ujung Utara Luwu Utara
Info Gangguan Layanan Air

Uncategorized

Info Gangguan Layanan Air Selasa 21 Mei 2024

Uncategorized

Pasca-Kericuhan di IMIP Morowali, Polisi Dalami Laporan Penganiayaan oleh Oknum Sekuriti

Uncategorized

Pillkada Serentak di Kutai Timur Sukses Berkat Sinergitas Forkopimda

Uncategorized

Bupati Iksan Pastikan Listrik 24 Jam di Wilayah Kepulauan Mulai Maret

Uncategorized

Luwu Utara Bidik 10 Besar Nasional MCSP KPK, Bupati Andi Rahim: Perkuat Transparansi!

Uncategorized

Pj Wali Kota Hadiri Pendampingan Penginputan PM-PK SPIP Pemkot Palopo

Uncategorized

Menghitung Hari Menuju Tanah Kelahiran: Akhir Tugas Sekda Palopo Firmanza di Kota Idaman