Home / News

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:25 WIB

Menjaga “Surga” Wisata: Edukasi Sapta Pesona untuk Liburan yang Berkesan

By: Lukman Hamarong

Pernahkah Anda merasakan momen ketika berkunjung ke sebuah objek wisata, udaranya begitu sejuk, pemandangannya indah memesona, serta disambut senyuman hangat penduduk lokal, lalu pulang dengan sejuta kenangan manis, kemudian melanjutkan cerita baik ke sejumlah pihak?

Pengalaman yang luar biasa berkesan seperti itu bukanlah kebetulan semata atau ujuk-ujuk jadi nyata. Di balik keindahan sebuah destinasi wisata, terdapat upaya kolektif yang begitu matang, di mana edukasi pengunjung wisata dan penerapan Sapta Pesona memegang peranan utama.

Pariwisata bukan sekadar pelancong yang hanya datang, lalu pergi begitu saja. Namun, lebih dari itu, pariwisata adalah ruang interaksi antara manusia, alam, dan budaya. Agar objek wisata tetap lestari dan menyenangkan, maka pengunjung tidak boleh hanya menjadi penikmat yang pasif.

Wisatawan atau pelancong yang cerdas adalah mereka yang juga turut berkontribusi aktif dan masif dalam upaya menciptakan ekosistem pariwisata yang aman, nyaman, dan safety. Maka dari itu, edukasi wisata adalah hal absolut yang mesti harus terus digelorakan serta dilestarikan.

Terkadang banyak masalah di sejumlah destinasi wisata terjadi karena mengabaikan kebersihan lingkungan dan kenyamanan objek wisata. Belum lagi ketika terjadi perusakan fasilitas umum, hingga pelanggaran norma lokal yang terjadi karena kurangnya kesadaran pengunjung wisata.

Di sinilah edukasi wisata masuk sebagai jembatan penghubung dan menjadi lalu lintas informasi yang edukatif terhadap pengunjung wisata. Ketika pengunjung teredukasi dengan baik sejak awal kedatangan, mereka akan lebih menghargai lingkungan atau objek wisata yang dikunjunginya.

Pengunjung yang sadar wisata otomatis akan bisa menjaga kebersihan, mematuhi rambu-rambu keselamatan di area rawan, seperti jalur pendakian, akses yang terjal, dan arus sungai yang deras, termasuk akan menghormati budaya lokal dan menjaga kearifan lokal masyarakat setempat.

Singkatnya, edukasi wisata akan mengubah perilaku para wisatawan dari sekadar “tamu” menjadi “penjaga kehormatan” di objek wisata yang dikunjunginya. Sebagai panduan utama pariwisata, Sapta Pesona hadir sebagai strategi krusial sadar wisata yang merangkum tujuh unsur esensial.

Ketujuh unsur tersebut ibarat fondasi rumah. Jika semuanya kokoh, maka siapa pun yang tinggal di dalamnya tentu akan merasa betah. Tujuh Sapta Pesona yang harus dihidupkan ketika melakoni aktivitas pariwisata adalah AMAN, TERTIB, BERSIH, SEJUK, INDAH, RAMAH, DAN KENANGAN.

Menciptakan pariwisata yang berkualitas bukanlah tugas pemerintah atau pengelola objek wisata saja. Melainkan ini adalah gerakan bersama seluruh stakeholder atau penggiat pariwisata. Ketika pengelola giat mengedukasi, maka akan berdampak pada terciptanya kondusivitas pariwisata.

Wisatawan akan datang dengan kesadaran untuk merawat destinasi. Ketika ini terjadi, maka kita sedang menciptakan siklus pariwisata berkelanjutan. Objek wisata akan lestari, kenyaman terjaga, serta cerita-cerita tentang indahnya berwisata akan selalu hidup dari generasi ke generasi.

Mari kita menikmati pariwisata dengan baik, bijak, dan sadar wisata, karena setiap jejak kaki yang tertinggal di objek wisata yang kita kunjungi akan menentukan masa depan objek wisata tersebut. Hanya dengan berwisata secara aman dan nyaman, kita bisa menciptakan kenangan. (LHr)

Share :

Baca Juga

News

FKJ-Nur Terima Rekomendasi PSI di Pilwalkot Palopo

News

Gandeng Universitas Harkat Negeri, Yayasan Andi Manenne Cendekia Matangkan Persiapan POLTEKIS Luwu Utara

News

Bupati Iksan Baharudin Minta Seluruh OPD Perkuat Koordinasi Hadapi Ancaman Banjir

News

Selamat Atas Pelantikan Pj. Sekda Kota Palopo

News

Sertifikasi Masjid, Langkah Penting Menuju Legalitas dan Perlindungan Rumah Ibadah

News

Pasca Lelang Jabatan, Pemkab Luwu Gelar Mutasi Pejabat Jilid III Hari Ini

News

Memahami Perbedaan Karakteristik Bidang dan UPT Perangkat Daerah dalam Pemberitaan

News

Nama Dicatut dalam Proyek 26 Ambulans Luwu Timur, Armin Jafar: Tanda Tangan Saya Dipalsukan!