Home / Uncategorized

Jumat, 17 Oktober 2025 - 15:10 WIB

Palopo Kehilangan DAU Kesehatan Rp 25 Miliar, Bagaimana Nasib Pelayanan Publik?

PALOPO— Pemerintah Kota Palopo dihadapkan pada tantangan fiskal yang berat di tahun anggaran 2026 menyusul kebijakan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) secara nasional.
Dampak paling signifikan terasa di sektor krusial: kesehatan dan pendidikan, dengan Dana Alokasi Umum (DAU) untuk bidang kesehatan dipangkas total alias nihil dari sebelumnya Rp 25 miliar pada tahun 2025.
Total DAU Palopo secara keseluruhan anjlok Rp 101 miliar, dari Rp 535 miliar menjadi Rp 434 miliar.
Penurunan ini juga menghantam anggaran pendidikan yang tergerus dari Rp 48 miliar menjadi hanya Rp 3 miliar, serta Dana Bagi Hasil (DBH) yang berkurang drastis dari Rp 15 miliar menjadi Rp 5 miliar. Secara total, Dana Transfer Umum (DTU) Palopo pada 2026 dipangkas sekitar Rp 112 miliar.
​Kepala Dinkes Palopo Pastikan Pelayanan Tetap Maksimal
​Meski dihadapkan pada kenyataan nihilnya DAU kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Palopo, Irsan Anugrah, menegaskan komitmennya untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat tidak terganggu.
​”Meskipun DAU kesehatan untuk Kota Palopo nihil pada 2026 nanti, kami tetap berkomitmen agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik,” ujar Irsan Anugrah.
​Penegasan ini menjadi kunci bagi Pemkot Palopo untuk mencari solusi pendanaan alternatif, mengoptimalkan sumber daya yang ada, atau merealokasi anggaran dari pos lain demi menjamin fungsi dasar layanan kesehatan tetap berjalan.
​Ancaman terhadap Pertumbuhan Ekonomi Lokal
​Pemangkasan TKD ini, yang terjadi secara nasional, dinilai dapat menimbulkan efek domino yang luas. Wakil Ketua DPRD Kota Palopo, Alfri Jamil, menyoroti potensi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan kualitas layanan publik.
​”Ketika ada pemotongan anggaran TKD, hal itu akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi, khususnya di sektor pendidikan, kesehatan, dan pembangunan,” kata Alfri.
​Ia menambahkan, berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri, 90 persen daerah di Indonesia memiliki kapasitas fiskal rendah. Dengan komponen transfer seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik dan Dana Bagi Hasil (DBH) menjadi yang paling terdampak, daerah-daerah harus bekerja keras mencari strategi untuk mempertahankan laju pembangunan dan layanan publik di tengah keterbatasan anggaran yang kian menyempit.
Kini, fokus Palopo tertuju pada bagaimana Pemerintah Daerah dan DPRD merumuskan APBD 2026 yang lebih adaptif, efisien, dan tetap prorakyat, khususnya dalam menjaga kualitas layanan kesehatan tanpa sokongan penuh dari dana transfer pusat.(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

PEMKAB MOROWALI SOSIALISASIKAN WHISTLE BLOWING SYSTEM UNTUK PERKUAT PENGAWASAN INTERNAL

Uncategorized

Jejak Kasubag Luwu yang Berakhir di Kursi Gubernur Sulawesi Tengah

Uncategorized

Inovasi Slag Nikel Jadi Bata Berkualitas Tinggi

Uncategorized

Kinerja Waris Halid Terukur Kepeduliannya dengan Persoalan di Luwu Raya

Uncategorized

Info Gangguan Layanan Distribusi Air

Uncategorized

BUPATI IKSAN BAHARUDIN ABDUL RAUF FOKUS TANGANI PERSOALAN SAMPAH, EMPAT MESIN DISIAPKAN DI BAHODOPI

Uncategorized

Bungku Tengah menjadi Penutup rangkaian Apel Umum, ini pesan Bupati Iksan

Uncategorized

Syafruddin PKB Protes Keras Pemangkasan DBH Balikpapan 70%: “Itu Hak Daerah!”