Home / News

Senin, 26 Januari 2026 - 20:09 WIB

Sekda Sulsel Akui Luwu Raya “Jantung” yang Sulit Dilepas

​MAKASSAR – Sebuah pernyataan mendasar yang muncul dari lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) menarik perhatian publik.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulsel Drs. H. Jufri Rahman, M.Si, secara terbuka mengakui bahwa wilayah Luwu Raya merupakan aset yang terlalu berharga untuk dipisahkan dari peta administratif Sulawesi Selatan. ​Alasannya sangat jelas: Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA).

​Magnet Mineral di Tanah Luwu
​Bukan rahasia lagi bahwa Luwu Raya, yang meliputi Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, dan Kota Palopo, adalah lumbung komoditas bernilai tinggi.

Wilayah ini menyimpan cadangan nikel raksasa yang menjadi incaran pasar global, terutama untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik.

Selain nikel, potensi emas dan bijih besi di sana terus memberikan kontribusi masif bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Selatan.

Baca juga  Terkait Pembentukan Kabupaten Dapat Lampu Hijau DPRD, Sulawesi Selatan Sambut Daerah Otonom Baru

​”Luwu Raya kaya emas, besi, dan nikel. Itulah mengapa sulit bagi Sulawesi Selatan untuk berpisah dengan wilayah ini,” ungkap pernyataan yang beredar luas di media sosial tersebut.

Dilema Pemekaran: Antara Ekonomi dan Aspirasi
​Pengakuan jujur ini secara tidak langsung menjawab dinamika gerakan Pemekaran Provinsi Luwu Raya yang telah berhembus selama bertahun-tahun.

Bagi masyarakat di Luwu Raya, kemandirian administratif dianggap sebagai jalan mempercepat pembangunan infrastruktur.
Namun bagi Pemprov Sulsel, melepas Luwu Raya berarti kehilangan:

​Dana Bagi Hasil (DBH): Royalti dari pertambangan nikel di Luwu Timur adalah salah satu penopang utama pendapatan daerah.
​Ketahanan Industri: Kawasan industri berbasis tambang di Luwu menjadi daya tarik utama investasi asing masuk ke Sulsel.​

Baca juga  Pj Walikota Palopo dan Rektor UIN Temui Menag, Bahas Peresmian UIN dan Kerjasama Pendidikan

Keseimbangan Wilayah: Luwu Raya berfungsi sebagai penyeimbang pertumbuhan ekonomi antara wilayah selatan dan utara provinsi.

​Tantangan Ke Depan
​Meskipun secara ekonomi sulit untuk dilepaskan, pengakuan ini juga menjadi pengingat bagi pemerintah provinsi agar lebih memperhatikan pemerataan pembangunan di wilayah Luwu Raya.

Jika kekayaan alam terus diserap namun pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat lokal tidak setara dengan kontribusinya, maka desakan untuk “berpisah” diprediksi akan terus menguat.

​Hingga saat ini, wacana pembentukan Provinsi Luwu Raya masih terganjal moratorium pemekaran daerah dari pemerintah pusat.
Namun, pernyataan “pengakuan jujur” dari pihak Sekda ini semakin mempertegas posisi tawar Luwu Raya sebagai “anak emas” yang secara strategis tak tergantikan bagi Sulawesi Selatan.(***)

Share :

Baca Juga

News

Pilih No.2, Program Pendidikan Gratis Seragam SD.SMP, Beasiswa S1,S2,S3, Palopo Semakin Baik

News

Sertifikasi Masjid, Langkah Penting Menuju Legalitas dan Perlindungan Rumah Ibadah
Palopo Jalin MoU Strategis dengan Poltekpar Makassar

News

Palopo Jalin MoU Strategis dengan Poltekpar Makassar

News

Perubahan Anggaran Palopo: Pendapatan dan Belanja Menurun di APBD-P 2025

News

Disporapar Luwu Utara Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Pengelola Jasa Usaha Pariwisata

News

Baso Akhmad Didaulat Jadi Penasihat SMSI Palopo: Perpaduan Pengalaman Pers dan Pemerintahan

News

BBPSDM Kominfo Makassar Pacu Literasi Digital Bagi Siswa SD/SMP Sederajat Di Kota Palopo
Penyaluran KUR, Pemkot Palopo kerja sama Pemprov Sulsel

News

Penyaluran KUR Giatkan UMKM, Pemkot Palopo kerja sama Pemprov Sulsel