PALOPO – Minggu dini hari, 25 Januari 2026, seharusnya menjadi waktu bagi warga Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Songka, untuk beristirahat dalam lelap.
Namun, ketenangan di Kecamatan Wara Selatan itu pecah berkeping-keping saat jarum jam menunjukkan pukul 04.10 WITA. Cahaya merah menyala dari sebuah toko meubel, menandai dimulainya sebuah malam yang tak terlupakan bagi keluarga Masdiana.
Kepungan Busa dan Api
Di dalam bangunan yang sehari-harinya riuh dengan suara gergaji dan tumpukan kayu itu, api muncul secara tiba-tiba dari ruang tengah.
Masdiana (55), sang pemilik rumah, hanya bisa tertegun saat melihat si jago merah sudah menguasai area tersebut.
Bukan kayu yang menjadi pemicu utama, melainkan tumpukan busa—bahan empuk yang seharusnya menjadi sandaran nyaman kursi-kursi buatan mereka.
Sifat busa yang sangat mudah terbakar membuat api memiliki “sayap” untuk merayap ke seluruh penjuru rumah dengan sangat cepat.
Perjuangan yang Terhenti
Di balik kepulan asap tebal, ada perjuangan yang menyayat hati.
Bama Bambang (65), suami Masdiana, berada di ruangan yang sama saat api mulai beringas. Namun, takdir berkata lain. Bama yang sedang dalam kondisi sakit lumpuh hanya bisa pasrah dalam ketidakberdayaannya.
Masdiana bukannya tidak mencoba. Di tengah suhu yang memanas dan pandangan yang tertutup asap, ia sempat berusaha menolong belahan jiwanya itu. Namun, api yang membesar seperti tembok raksasa menghalangi langkahnya. Demi keselamatan dua buah hatinya, Masdiana akhirnya dipaksa keadaan untuk keluar rumah dengan duka yang sudah mulai membayang.
”Suami Masdiana masih berada di ruangan tengah dalam keadaan sakit lumpuh. Dia sempat berusaha untuk menolong, tapi karena api semakin cepat membesar sehingga pemilik rumah langsung keluar bersama dua orang anaknya,” ujar Kapolsek Wara Selatan, IPTU Yusran Sa’buran, menjelaskan kronologi pilu tersebut.
Sisa Abu di Fajar Menyingsing
Saat matahari mulai terbit di ufuk timur Kota Palopo, yang tersisa hanyalah puing-puing hitam dan garis polisi yang melingkar. Bama Bambang ditemukan telah tiada, menjadi korban tunggal dalam peristiwa mencekam tersebut.
Toko meubel yang selama ini menjadi sumber kehidupan keluarga kini tinggal arang. Namun bagi Masdiana, hilangnya harta benda mungkin tak sebanding dengan rasa sesak karena harus kehilangan sosok suami dalam peristiwa yang hanya sekejap itu. (***)










