PALOPO – Sosok Trisal Tahir mungkin tidak memiliki jabatan struktural dalam pemerintahan Kota Palopo, namun belakangan ini, intensitas kehadirannya di samping sang istri, Wali Kota Palopo Hj. Naili Trisal, menjadi perbincangan hangat.

Jauh dari hiruk pikuk politik dan formalitas, kehadiran Trisal menorehkan kisah humanis tentang kesetiaan dan dukungan yang tulus, menjadikannya ‘pilar sunyi’ di balik sukses kepemimpinan sang istri.
Sejak Hj. Naili Trisal resmi memegang tampuk kepemimpinan, menggantikan posisi yang sebelumnya sempat diusung Trisal, publik Palopo kerap menyaksikan pemandangan tak biasa.
Trisal, seorang pengusaha maritim yang kenyang pengalaman di kancah nasional dan internasional, kini tampak lebih sering mendampingi sang istri, mulai dari menerima tamu resmi di Rumah Jabatan Wali Kota, hingga kunjungan kerja ke luar daerah, bahkan ke luar provinsi seperti ke Kota Malang.
Bagi sebagian orang, kehadiran seorang suami di acara kedinasan istri mungkin dianggap sebagai hal lumrah, namun dalam konteks jabatan publik yang formal, ini memicu pertanyaan dan bahkan kritik.
Namun, jika dilihat dari kacamata kemanusiaan dan hubungan personal, kehadiran Trisal mencerminkan dukungan yang tak tergoyahkan.
Dukungan Tanpa Tanda Jasa
Trisal Tahir bukan sekadar suami dari seorang Wali Kota; ia adalah ayah dari empat anak, seorang mantan calon Wali Kota yang perjalanannya terhenti karena faktor non-politis, dan kini menjadi sandaran moral bagi istrinya yang memikul beban amanah rakyat.
Kehadirannya di sisi Hj. Naili Trisal di setiap momen penting, mulai dari acara resmi hingga pertemuan informal, memancarkan pesan yang kuat: “Kamu tidak sendirian.” Dalam dunia politik yang penuh tekanan, peran pendamping seperti Trisal menjadi vital, memberikan stabilitas emosional dan dukungan logistik yang seringkali luput dari sorotan media.
Ketika Wali Kota Naili menerima kunjungan resmi atau berdiskusi dengan kolega di Malang, sosok Trisal yang berada di sana bukan hanya sebagai ‘pendamping’, melainkan sebagai jaring pengaman, seseorang yang memahami betul dinamika di balik layar, bahkan mungkin menjadi partner diskusi strategis yang paling dipercaya.
Seorang sumber yang dekat dengan lingkaran Wali Kota menyebutkan, “Bapak (Trisal) tahu betul bagaimana tekanan yang dihadapi Ibu (Naili). Beliau memilih untuk selalu hadir, bukan untuk mengambil panggung, tapi untuk memastikan Ibu selalu merasa kuat dan fokus pada tugasnya.
Itu adalah wujud cinta dan pengorbanan yang jarang terlihat di permukaan.”
Jembatan Humanis
Alih-alih menyandang jabatan resmi, Trisal memilih peran sebagai ‘jembatan’ yang mendekatkan sisi humanis sang Wali Kota dengan masyarakat.
Dalam situasi yang menegangkan, senyum dan kehadiran menenangkan dari sang suami dapat menjadi penyemangat tak ternilai.
Kisah Trisal Tahir ini mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak hanya dijalankan oleh satu individu, melainkan oleh sebuah sistem dukungan yang kuat, dimulai dari keluarga. Ia menunjukkan bahwa di balik seragam dan protokoler kedinasan, ada hati yang membutuhkan dukungan, ada bahu yang perlu sandaran.
Inilah Trisal Tahir, “pilar sunyi” Palopo. Ia membuktikan bahwa kesetiaan dan dukungan tulus seorang suami, meski tanpa predikat atau jabatan formal, adalah aset tak ternilai bagi seorang pemimpin dan kota yang dipimpinnya.
Kehadirannya yang konsisten adalah narasi humanis tentang pengorbanan, cinta, dan komitmen yang jauh lebih berharga daripada gemerlap panggung kekuasaan.(***)











