PALOPO – Aktivis perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Srikandi Pemuda Pancasila Kota Palopo, Sharma Hadeyang, menyampaikan kritik pedas terhadap gaya kepemimpinan Gubernur Sulawesi Selatan saat ini. Sharma menilai langkah-langkah kebijakan yang diambil baru-baru ini menunjukkan ketidakmampuan pemimpin dalam merespons jeritan masyarakat di tingkat akar rumput.

Kepemimpinan yang “Tuli” Aspirasi
Dalam pernyataan resminya, Sharma menegaskan bahwa seorang Gubernur seharusnya menjadi pengayom yang mengutamakan dialog, bukan justru menutup diri dari keluhan warga.
”Apa yang kita saksikan hari ini dari langkah Gubernur Sulsel bukanlah cerminan pemimpin yang bijak. Pemimpin itu sejatinya adalah pendengar yang baik bagi rakyatnya, bukan sosok yang abai terhadap kebutuhan nyata di lapangan,” ujar Sharma.
Poin-Poin Kritikan Tajam Sharma Hadeyang:
Kebijakan yang Tidak Relevan: Langkah pemerintah provinsi dianggap tidak sinkron dengan kebutuhan mendesak masyarakat di daerah, khususnya di wilayah Luwu Raya.
Kurangnya Kepekaan Sosial: Sharma menyoroti bahwa kebijakan yang diambil terkesan dipaksakan tanpa melalui kajian mendalam terhadap dampak sosial yang ditimbulkan.
Panggilan untuk Perubahan: Sebagai tokoh perempuan, ia mendesak agar Gubernur segera mengubah pola komunikasinya dengan rakyat dan pemangku kepentingan di daerah.
Menuntut Langkah Nyata, Bukan Seremonial
Sharma menambahkan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan, terutama kaum perempuan dan keluarga kecil, sangat bergantung pada kebijakan yang pro-rakyat.
Menurutnya, citra kepemimpinan tidak bisa dibangun hanya dengan seremoni jika pada kenyataannya keluhan warga tetap tidak terjawab.
”Kami butuh aksi nyata, bukan sekadar kebijakan di atas kertas yang tidak menyentuh substansi masalah. Gubernur harus mampu mendengar, atau masyarakat akan kehilangan kepercayaan total,” tutup Sharma.(***)










