PALOPO — Di tengah deru sirene dan panasnya api, nama Rachmad bukan sosok asing bagi warga Kota Palopo. Selama menjabat sebagai Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, ia dikenal sebagai sosok yang reaktif dan tak segan turun ke lapangan dalam situasi darurat.
Namun, per 13 Februari 2026, babak baru dimulai. Rachmad resmi menanggalkan seragam biru damkar untuk memimpin Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Pertanahan.
Semangat “Quick Response” di Medan Baru
Banyak yang bertanya, mengapa seorang ahli penyelamatan kebakaran dipercaya mengurusi limbah dan pertanahan?
Jawabannya ada pada kedisiplinan operasional.
Wali Kota Palopo, Hj. Naili Trisal, nampaknya menginginkan energi quick response yang dimiliki Rachmad untuk menyelesaikan masalah kronis perkotaan: sampah. Lingkungan hidup bukan lagi sekadar menanam pohon, melainkan manajemen darurat terhadap polusi dan kapasitas TPA yang kian menipis.
”Jika di Damkar saya berhadapan dengan api yang melahap bangunan, di DLH saya berhadapan dengan ‘api’ masalah lingkungan yang jika dibiarkan akan melahap masa depan kota.”
Tantangan Besar: TPA Mancani & Estetika Kota
Tugas Rachmad tidaklah ringan. Di tahun 2026 ini, ia mewarisi beberapa agenda krusial:
Bom Waktu TPA Mancani: Mengelola kapasitas tempat pembuangan akhir agar tidak mengalami over capacity.
Modernisasi Armada: Mengintegrasikan sistem pelaporan cepat (mirip sistem Damkar) untuk penjemputan sampah warga.
Wajah Kota: Memastikan taman-taman kota kembali asri dan Palopo tetap mempertahankan standar kebersihan yang tinggi.
Visi Utama: Mewujudkan Palopo sebagai kota yang tidak hanya tangguh (resilient) tapi juga berkelanjutan (sustainable).
Rachmad kini membuktikan bahwa kepemimpinan adalah soal adaptasi. Dari memadamkan api, kini ia bertugas menyalakan kesadaran warga untuk menjaga lingkungan.
Warga Palopo tentu menanti, apakah tangan dingin yang dulu terbiasa memegang selang pemadam mampu menyulap kota ini menjadi lebih sejuk dan tertata.(***)










