Home / Uncategorized

Rabu, 4 Maret 2026 - 17:04 WIB

Tahun Ini Kota Palopo Tanpa Safari Ramadan ?

​PALOPO – Sebuah anomali besar tengah terjadi di jantung Kota Palopo. Di saat deru napas Ramadan begitu terasa di kabupaten-kabupaten tetangga se-Luwu Raya, lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Palopo justru diselimuti “kesunyian” tradisi yang mencolok.

Fenomena hilangnya agenda Safari Ramadan dan Buka Puasa Bersama tahun ini memicu tanya besar: Apakah ini kemajuan birokrasi atau justru kemunduran spiritualitas pimpinan daerah?

​Kontras Tajam: Luwu Utara Membara, Palopo Merana

​Perbandingan yang paling menyesakkan dada terlihat jelas saat menoleh ke Kabupaten Luwu Utara. Di sana, napas Islam merasuk hingga ke nadi para ASN. Mulai dari kewajiban Shalat Dzuhur berjamaah yang diikuti tadarus massal, hingga jadwal Safari Ramadan yang disusun rapi oleh Bupati dan jajarannya untuk menyisir masjid-masjid di pelosok.

​Kondisi serupa juga terlihat masif di Luwu dan Luwu Timur. Namun, mengapa di Kota Palopo—yang secara historis adalah “episentrum” dari cikal bakal Provinsi Luwu Raya—tradisi yang sudah mengakar selama dua periode pemerintahan sebelumnya ini justru terhenti total?

Baca juga  Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Hamsir Hamid, ST

​Gugatan Terhadap Tagline “Palopo Baru”

​Publik mulai mempertanyakan apakah penghapusan tradisi ini adalah bagian dari strategi “Palopo Baru”. Jika benar, maka “Wajah Baru” yang ditawarkan seolah-olah meniadakan kearifan lokal yang selama ini menjadi jembatan emosional antara pemimpin dan rakyatnya.

​”Sangat naif jika alasan yang digunakan adalah efisiensi anggaran,” ungkap salah satu pengamat sosial kemasyarakatan di Palopo. “Daerah tetangga seperti Luwu dan Luwu Timur juga menggunakan anggaran negara, namun mereka tetap mampu hadir di tengah masyarakat saat Ramadan. Ini bukan soal uang, ini soal kemauan dan keberpihakan pada nilai-nilai religi.”

​Kehilangan Ruang Dialog Spiritual

​Safari Ramadan bukan sekadar seremoni makan enak atau bagi-bagi sembako. Bagi warga Palopo, itu adalah momen langka di mana mereka bisa bersentuhan langsung dengan Wali Kota dan para Kepala Dinas di shaf shalat yang sama. Dengan ditiadakannya agenda ini, Pemkot Palopo dinilai tengah membangun “tembok pembatas” yang tinggi dengan warganya sendiri.

Baca juga  Nasib Victory Billiard di Ujung Tanduk: DPMPTSP Tegaskan Segel, Owner Minta Usaha Tak Dimatikan

​Bahkan, geliat ibadah di kantor-kantor dinas (OPD) pun tampak layu. Tanpa instruksi pimpinan untuk memakmurkan masjid kantor melalui shalat berjamaah atau pengajian rutin, Ramadan bagi ASN Palopo tahun ini tak ubahnya hanya bulan bekerja dengan perut lapar.

​Menanti Jawaban Penguasa

​Hingga pertengahan bulan suci ini, “Gema Ramadan” di lingkungan Pemkot Palopo masih belum terdengar. Masyarakat kini hanya bisa bertanya-tanya: Mengapa hanya Palopo yang seolah “puasa” dari kegiatan syiar Islam di lingkup pemerintahan?

Apakah ini bentuk modernisasi birokrasi yang kebablasan, ataukah hilangnya sensitivitas pemimpin terhadap budaya religius masyarakatnya?

​Wajah Palopo Baru kini tengah diuji: Apakah ia hadir untuk membawa pembaruan yang bermartabat, atau justru datang untuk menghapus jejak-jejak kebaikan yang telah menjadi tradisi turun-temurun?(***)

Share :

Baca Juga

Uncategorized

PERUMDA TM Rangking Satu Se SulSel

Uncategorized

Selesaikan Studi, Kepala UPT Pariwisata Harap Ilmu Magister Tita Kamila Bisa Majukan Wisata Daerah

Uncategorized

Perkuat Penyangga IKN: Balikpapan dan Parepare Jalin Sinergi Strategis Superhub Ekonomi

Uncategorized

Kebijakan Perampingan OPD Palopo Menuai Pro Kontra: Langkah Efisiensi vs Ancaman Non-Job Pejabat

Uncategorized

Dua Terdakwa Pencurian di Kawasan IMIP Terancam 7 Tahun Penjara

Uncategorized

Dari Tolada untuk Muhammadiyah: Benih-benih Pemimpin Berkemajuan Telah Bersemi

Uncategorized

Tegas! Bupati Iksan Larang Kendaraan Dinas Digunakan di Luar Tugas

Uncategorized

Mengenal Yanti Anwar, Caleg NasDem yang Siap Gantikan Abdul Salam di Parlemen Palopo