Home / Uncategorized

Sabtu, 26 April 2025 - 13:44 WIB

Asal Mula Istilah “passobis”

SOROTAN — “Istilah “passobis” sering dikaitkan dengan berbagai modus penipuan online, seperti iming-iming hadiah, kabar duka palsu, penawaran investasi bodong, dan lain-lain. Para pelaku sering memanfaatkan manipulasi psikologis untuk meyakinkan korban agar memberikan informasi pribadi atau mentransfer sejumlah uang.

Istilah yang populer di Sulawesi Selatan ini berakar dari “showbiz” : bisnis pertunjukan biasanya untuk urusan musik yang memungut bayaran dari penonton.

Showbiz ini kemudian mengalami pergeseran makna dan pelafalan karena pengaruh dialek Bugis, ini adalah contoh yang fascinating tentang bagaimana bahasa dan budaya saling memengaruhi.
Awalan “pa-” memang sering digunakan untuk membentuk kata benda yang menunjukkan pelaku suatu perbuatan.

Baca juga  ASN Pemkot Palopo Bisa Kerja dari Rumah Jelang Nyepi dan Usai Lebaran 2026, Ini Jadwalnya

Contohnya, dari kata “galung ” menjadi “pagalung” (petani sawah) atau dari kata “balu” menjadi “pabbalu (penjual ). Jika “sobis” dianggap sebagai sebuah “pekerjaan” (dalam konteks negatif penipuan), maka “passobis” secara linguistik bisa diartikan sebagai “orang yang melakukan sobis” atau “orang yang berprofesi sebagai sobis”.

Terjadi pergeseran makna: Istilah “showbiz” atau “bisnis pertunjukan” memang populer. Namun, dalam perkembangannya, terutama di kalangan tertentu di Sulawesi Selatan, istilah ini mengalami distorsi pelafalan menjadi “sobis” akibat perbedaan dialek dan kebiasaan berbahasa.

Baca juga  KKSS dan KKST dilantik secara bersamaan

Masyarakat sering kali menciptakan istilah lokal untuk fenomena yang sering terjadi di sekitar mereka. Jika penipuan daring menjadi isu yang menonjol, wajar jika muncul istilah khusus seperti “passobis” untuk menyebut pelakunya.
Jika teori ini benar, maka “passobis” adalah contoh unik dari bagaimana sebuah istilah yang awalnya merujuk pada dunia hiburan bisa bergeser maknanya menjadi konotasi negatif terkait aktivitas kriminalitas daring, melalui perantara dialek dan kebutuhan masyarakat untuk menamai fenomena sosial. (b.a)

 

ctt: pic.sumber rri.co.id

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Irfan Dahri Tegaskan Pengusulan Lima Karyawan PT Panply Bisa Dibatalkan

Uncategorized

Semangat Kemenangan di Bekas Warung Miras: Kisah Aiptu Jacky Melawan Judi dan Miras dengan Buku

Uncategorized

Legislator Tegur Pengelola Terkait Parkir Liar dan Pedagang di PNP  

Uncategorized

Hadiri Penutupan STQH XXIII, Pj Wali Kota Palopo Sebut Kegiatan Ini Menumbuhkan Semangat Religius

Uncategorized

Peringati Hari Bumi, IMIP Gelar Run for Green di Kota Palu

Uncategorized

Bupati Dorong Pendekatan Dialogis dalam Penetapan Sempadan Danau Matano 

Uncategorized

Nopol Palopo di Luar Kota: Dilema Pajak dan TPP ASN, Kebijakan ‘Amankan PAD’ Berpotensi Bumerang

Uncategorized

Pelayanan BPN Luwu Dikeluhkan, Pengurusan Roya yang Seharusnya Hitungan Hari Molor Hingga Satu Bulan