MAKASSAR – Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan potongan video lama sambutan Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman (ASS).
Dalam video yang kembali viral tersebut, pernyataan ASS yang menyindir aspirasi pemekaran wilayah di Tana Luwu dianggap melukai perasaan masyarakat setempat.
Dalam video yang kembali viral tersebut, pernyataan ASS yang menyindir aspirasi pemekaran wilayah di Tana Luwu dianggap melukai perasaan masyarakat setempat.
Kronologi dan Pernyataan yang Kontroversial
Pernyataan tersebut dilontarkan dalam sebuah sambutan resmi pada peringatan hari jadi salah satu kabupaten di wilayah Luwu beberapa tahun lalu.
Pernyataan tersebut dilontarkan dalam sebuah sambutan resmi pada peringatan hari jadi salah satu kabupaten di wilayah Luwu beberapa tahun lalu.
Saat membahas aspirasi pemekaran daerah , Andi Sudirman melontarkan seloroh yang kini dinilai kebablasan.
”Katanya mau keluar dari Sulawesi Selatan? Kenapa tidak keluar sekalian dari Indonesia?” ujar Andi Sudirman dalam potongan video yang kini kembali beredar luas di platform TikTok dan grup WhatsApp dan fesbuk itu.
Respons Keras dari Tokoh dan Masyarakat Luwu
Bagi masyarakat Tana Luwu, kalimat tersebut bukan sekadar candaan politik, melainkan bentuk pengabaian terhadap sejarah panjang dan perjuangan masyarakat Luwu.
Bagi masyarakat Tana Luwu, kalimat tersebut bukan sekadar candaan politik, melainkan bentuk pengabaian terhadap sejarah panjang dan perjuangan masyarakat Luwu.
Aspirasi pembentukan Provinsi Luwu Raya diketahui telah lama diperjuangkan demi pemerataan ekonomi dan pendekatan pelayanan publik.
Beberapa poin keberatan yang muncul di tengah masyarakat antara lain:
Beberapa poin keberatan yang muncul di tengah masyarakat antara lain:
Ketidakpantasan Ruang: Pernyataan tersebut disampaikan di forum resmi kenegaraan (Hari Jadi Kabupaten), bukan dalam ruang diskusi santai.
Sentimen Historis: Masyarakat Luwu memiliki andil besar dalam sejarah Sulawesi Selatan dan Indonesia, sehingga narasi “keluar dari Indonesia” dianggap sangat provokatif dan tidak empatik.
Sentimen Historis: Masyarakat Luwu memiliki andil besar dalam sejarah Sulawesi Selatan dan Indonesia, sehingga narasi “keluar dari Indonesia” dianggap sangat provokatif dan tidak empatik.
Meremehkan Aspirasi: Sindiran tersebut dinilai merendahkan keinginan tulus masyarakat yang merasa pembangunan saat ini masih terlalu terpusat di wilayah selatan.
Dinamika Politik di Balik Viralnya Video
Pengamat komunikasi politik menilai kembalinya video ini ke permukaan merupakan bukti bahwa luka komunikasi yang ditinggalkan oleh pejabat publik bisa berumur panjang.
Pengamat komunikasi politik menilai kembalinya video ini ke permukaan merupakan bukti bahwa luka komunikasi yang ditinggalkan oleh pejabat publik bisa berumur panjang.
“Seorang pemimpin harus memahami bahwa isu pemekaran daerah adalah isu emosional yang menyangkut identitas dan harapan hidup masyarakat.
Menggunakan diksi yang ekstrem—meskipun tujuannya bercanda—bisa menjadi bumerang politik di masa depan,” ujar salah satu analis politik lokal.
Menggunakan diksi yang ekstrem—meskipun tujuannya bercanda—bisa menjadi bumerang politik di masa depan,” ujar salah satu analis politik lokal.
Hingga saat ini, isu pemekaran daerah masih terbentur kebijakan moratorium dari pemerintah pusat. Namun bagi warga Tana Luwu, perjuangan tersebut tetap hidup, dan mereka menuntut rasa hormat dari para pemimpin provinsi atas aspirasi tersebut.(***)











